Kasih Allah Melampaui Penghukuman

Kasih Allah Melampaui Penghukuman

Yohanes 12:20-33

Mesias yang menderita dan mati, bukanlah konsep teologis yang dihayati dan dipahami oleh umat Yahudi pada zaman itu. Bagi mereka, Anak Manusia (Mesias) yang dijanjikan dan diutus Allah, ialah seorang yang tidak terkalahkan, sehingga dapat membawa pembebasan dan kemenangan bagi umat Israel secara politis. Akan tetapi, Yesus datang bukan sebagai Mesias yang mengangkat senjata dan berperang, sebab Ia datang sebagai Mesias yang menderita. Pewartaan ini menjadi kabar yang memilukan hati, mengecewakan dan membuat banyak orang melakukan penolakan terhadap Yesus. Sebaliknya, bagi mereka yang percaya, penderitaan Mesias justru menjadi jalan masuk pada pemulihan dan pengampunan Allah.

Pemberitaan tentang Mesias yang menderita, diawali dengan pernyataan Yesus: “telah tiba saatnya Anak manusia dimuliakan.” (ay.23). Pernyataan ini bukan seruan untuk mengangkat senjata dan berperang seperti harapan umat Yahudi saat itu, melainkan seruan yang menegaskan tiba waktunya bagi Yesus untuk menapaki masa derita dan sengsara. Kemuliaan-Nya diperoleh bukan melalui kemenangan berperang, melainkan melalui kayu salib dan kematian. Itulah mengapa sesudah mengatakan hal tersebut, Yesus memberitakan 3 hal paradoksal: 1) melalui kematian datanglah kehidupan (ay.24); 2) melalui pengorbanan justru orang mendapatkan kehidupan (ay.25); 3) melalui pelayanan, sesorang mendapat kebesaran/ penghormatan Allah. 3 hal ini menjelaskan bagaimana karya keselamatan Allah ditempuh dengan jalan yang di luar akal dan pikiran manusia, yaitu melalui kematian, pengorbanan dan ketaatan seorang Hamba.

Keselamatan adalah jalan terang yang ditawarkan oleh Yesus kepada  setiap mereka yang mengambil keputusan untuk mempercayakan kehidupannya pada Yesus; keputusan untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat bukan dengan ketakutan melainkan dengan sukacita dan sukarela. Pada waktunya, seseorang harus mengambil keputusan untuk mengikut atau menyangkal Yesus; percaya atau tidak percaya. Dan mereka yang mengambil keputusan untuk merespon anugerah Allah adalah orang yang hidup dalam terang. Orang yang berjalan dalam terang dibebaskan dari bayang-bayang kegelapan dan maut, sehingga menjadi anak-anak terang (ay.36). Anak-anak Allah yang tahu kemana harus melangkah dan ke mana tujuan akhir dari kehidupannya. Anak-anak terang yang dituntun Allah keluar dari kegelapan dan berjalan meuju terang-Nya yang ajaib.

Teologi Kristen dibangun tidak di atas dasar penghukuman dan penghakiman Allah, melainkan didasarkan pada kasih Allah yang mengampuni dan memulihkan kehidupan manusia. Itu berarti, karya keselamatan Allah ditawarkan kepada mereka yang dengan kesadaran penuh menyambut anugerah itu melalui penyesalan dan pertobatan. Walau Allah membenci dan murka terhadap dosa manusia, tapi kasih Allah melampaui kemarahan-Nya, sehingga Ia bermurah-hati memberikan pengampunan melalui Kristus Yesus yang memulihkan dan memperbaharui kehidupan manusia.

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *