BERANI MENDERITA

BERANI MENDERITA

Markus 11:1-11

Peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai yang disambut teriakan penyambutan, “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang maha tinggi” terdapat dalam keempat injil. Bahkan Lembaga Alkitab Indonesia pun memberikan tafsiran yang sama terhadap peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan judul “Yesus dielu-elukan di Yerusalem.” Suasana yang dibangun adalah suka cita dan kegirangan karena datangnya seorang raja pembebas (mesias) yang diproyeksikan dalam diri Tuhan Yesus. Suasana sukacita dan kegembiraan itu semakin terlihat pada saat khalayak menyambut kedatangan “Sang Raja” dengan hamparan pakaian/kain dan ranting-ranting pohon. Hanya injil Yohanes saja yang secara definitif menyebutkan bahwa ranting-ranting yang dimaksud adalah daun Palem, yang daripadanya kemudian nama kalender liturgi memasuki pra paska VI ini dinamakan Minggu Palem/Palma. Meskipun ada sukacita dan kegembiraan (yang nantinya secara kontradiktif berubah menjadi teriakan penuh kebencian dan kemarahan dengan teriakan “salibkan Dia, salibkan Dia”, Minggu Palma juga memberikan pesan kerendahhatian dan kedamaian dengan dipilihnya keledai sebagai tunggangan raja.

Tanpa bermaksud mengecilkan pesan “kerendahhatian” dan juga “kedamaian” yang selama ini dihayati umat, masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem juga sering disebut-sebut sebagai Minggu Sengsara. Mengapa? Sebab pada saat itulah, predikat Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Paska “yang menghapus dosa dunia” mulai dijalankan. Kedatangannya ke Yerusalem bukan hanya untuk merayakan Paska melainkan menjadi Paska itu sendiri melalui penyaliban, kematian dan juga kebangkitan-Nya. Kedatangan- Nya ke Yerusalem dengan menaiki keledai menjadi wujud ketaatan-Nya kepada rencana kasih Allah, yang sudah dinubuatkan nabi Zakaria sebelumnya (Zakaria 9:9). Dengan demikian untuk menjadi manusia Paska, dibutuhkan ketaatan dan kerelaan/keberanian untuk menderita/ berkorban.

Penderitaan selamanya akan menjadi penderitaan apabila satu dengan yang lain saling menyalahkan dan mengalahkan. Dibutuhkan keberanian untuk hidup di dalam penderitaan dan mengubahnya menjadi kehidupan/harapan. Salib menjadi Paska; kematian menjadi kebangkitan.

Share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *